Free Web Site - Free Web Space and Site Hosting - Web Hosting - Internet Store and Ecommerce Solution Provider - High Speed Internet
Search the Web
MATERI-10: PEMINAKAN MANUSIA

 

DIMANA KENDALI ETISNYA?[1]

 

Oleh: Ferry F. Karwur

 

Peminakan (cloning) sebagai suatu prosedur perbanyakan non-seksual telah dengan sukses dilakukan sejak 1952 oleh Briggs dan King, dan dimatangkan di Oxford oleh Sir John Gurdon tahun 1962-1966.  Sekarang, peminakan dapat dilakukan melalui: (a) embryo splitting, (b) blastomere dispersal, dan (c) nuclear transfer (atau substitusi).

Dalam teknik yang disebut embryo splitting, kumpulan sel totipoten praembrio sebelum diletakkan ke dalam recipient, dipilah menjadi dua, yang kemudian menghasilkan dua embrio identik. Cara ini sering terjadi secara alamiah, yaitu dalam proses yang menghasilkan kembar identik (identical twin).

Cara yang kedua, yaitu blastomere dispersal, dimulai dengan pemisahan secara mekanik sel-sel individual sebelum pembentukan blastosit (sel-sel awal membentuk rupa bola penuh berisi cairan).

Cara terakhir, yaitu nuclear transfer, melibatkan pengosongan semua bahan genetik inti sel (kromosom-kromosom) dari sel telur yang telah matang. Sel telur yang inti selnya telah dikeluarkan itu kemudian diganti oleh inti sel lain dari donor yang terpilih. Pemasukkan inti sel donor dapat dilakukan melalui mikroinjeksi atau melalui fusi sel-sel. Teknik yang terakhir inilah yang digunakan untuk memproduksi si Dolly di Lembaga Roslin di United Kingdom.

Pengalaman panjang pengembangan metode peminakan menghasilkan suatu kesimpulan bahwa tingkat ketidakpastiannya hasil sangat tinggi. Dalam produksi pinakan (clone) babi oleh Betthauser, dkk (2000)[2], dari 23 surrogate mother yang rahimnya ditumbuhkan embrio-embrio hasil transfer inti sel, 7 surrogate hamil (30%), dua diantaranya melahirkan (8.7%), masing-masing dua anak babi.

Ketidakpastian peminakan dapat terjadi mulai dari prosedur untuk memperoleh sel-sel yang disebut sel-sel totipoten (stem cell), proses pemeliharaan selama masa kehamilan, sampai pada tahapan pasca-melahirkan. Pada manusia, persoalan post-natal jauh lebih merumitkan persoalan.

Sehubungan dengan masalah tersebut, The Royal Society, yang di dalamnya Sir John Gurdon (salah satu peletak dasar teknik peminakan), menjadi salah satu anggota tim perumus, melihat bahwa “peminakan embrio masih merupakan prosedur laboratorium yang sangat unpredictable”. The Royal Society kemudian berpendapat bahwa “peminakan manusia melalui teknik substitusi inti sel (nuclear substitution) tidak dapat diterima secara moral dan etika, oleh sebab itu harus dilarang” (The Royal Society, 1998)[3]

Survey pendapat publik di Indonesia tentang peminakan, belum terdengar. Namun pembahasan di koran/majalah oleh para ahli etika sangat banyak (sebut saja K. Bertens, dari lembaga etika Atmajaya). Sehubungan dengan hal ini, saya melakukan pooling pendapat kecil-kecilan (98 orang) dari orang Kampus (Dosen dan Mahasiswa) di UKSW[4].

 

Pooling pendapat yang dilakukan menggunakan pertanyaan yang digunakan oleh majalah TIME/CNN serta Yankelovich Partners Inc., tahun 2001 untuk khalayak di Amerika Serikat (1.015 orang)[5].

 

Hasil pooling (%), yang saya lakukan (98 responden), sebagian disajikan disini. Hasilnya diperbandingkan dengan hasil pooling yang dilakukan oleh CNN/TIME, sebagai berikut:

  • Mengenai pertanyaan “Sebagai suatu ide, bagaimana pendapat Anda jika peminakan diterapkan pada binatang, misalnya sapi?”, 77.55% berpendapat bahwa meminak binatang sebagai ide yang baik, dan sisanya (21.4 %) berpendapat sebagai ide yang buruk.  Hasil ini sangat bertolak-belakang dengan hasil pooling CNN/TIME dimana 29% responden mengatakan sebagai ide yang baik”, sisanya (67%) mengatakan sebagai ide yang buruk.

  • Mengenai pertanyaan, “bagaimana jika kloning diterapkan pada manusia?”, 83.7 % mengatakan sebagai ide yang buruk, 15.3 % berpendapat sebagai ide yang baik. Hasil ini memiliki kecenderungan yang sama dengan pooling CNN/TIME dimana 7% berpendapat kloning manusia sebagai ide yang baik, dan 90% mengatakan sebagai ide yang buruk.

  • Mengenai alasan “mengapa kloning manusia itu buruk?”, hampir separuh responden memilih jawaban karena alasan keagamaan (49 %) diikuti oleh alasan karena mungkin dapat digunakan untuk maksud yang kontroversial (32.6 %), karena teknologi kloning itu berbahaya (10.2 %), karena kloning mencampuri individualitas seseorang (10.2%). Sisanya (12.2 %) memberikan berbagai alasan lain.

  • 4. Pendapat mengenai pertanyaan “Apakah mengkloning manusia itu melawan kehendak Tuhan?”, 73.5 % menjawab “melawan” dan 23.5 % menjawab “tidak melawan”. Perbandingan ini hampir sama dengan yang dihasilkan oleh Pooling CNN dan TIME: 69% menjawab “melawan” dan 23% menjawab “tidak melawan”.

  • Pendapat mengenai pertanyaan “Jika Anda memiliki kesempatan, akankah Anda membuat klon diri Anda sendiri? 10.2% menjawab ya dan 83.7% menjawab tidak. Orang Amerika, 5% mengatakan ya, dan 93% mengatakan tidak.

  • Atas pertanyaan, “Jika suatu hasil kloning berasal dari seseorang yang telah meninggal, apakah kepribadian si klon sama dengan yang telah meninggal?” 33.7 % menjawab ya, dan 57% menjawab tidak.  Hasil ini sedikit menyimpang dari hasil pooling di Amerika yang diperoleh hasil bahwa 10% mengatakan ya, dan 74% mengatakan tidak.

Saya berpendapat bahwa manusia, yang sejarah evolusinya diturunkan secara seksual, hasil pertemuan antara gamet jantan dan gamet betina, bertanggungjawab kepada keseluruhan jalan evolusi yang telah dilaluinya. Tanggungjawab itu menyangkut, pertama, bahwa manusia sekarang merupakan puncak dari keseluruhan challenge and responses untuk paling tidak 2 juta tahun sejak manusia itu muncul di panggung evolusi. Ia muncul dari makluk yang tidak berkesadaran, dengan volume otak yang tidak lebih dari 900 ml, menjadi manusia yang oleh Descartes disebut, organisme yang berfikir dan darinya ia berkesadaran (cogito ergo sum, saya berfikir maka saya ada).

Tanggungjawab kedua ialah menyangkut nilai dasar yang disebut manusia, yaitu keunikan dari setiap individu. Jalan seksual tidak serta-merta semua jalan seksual. Jalan seksual dapat saja yang tidak dikehendaki, sehingga oleh sebagian masyarakat hasilnya divonis dengan “anak haram”, tidak diinginkan. Mengapa demikian, karena jalan seksual yang manusiawi adalah jalan yang merupakan pertemuan yang saling mencintai antara dua makluk yang disebut manusia. Ia bukan pertemuan paksaan, bukan hasil pemerkosaan.

Jadi keunikan yang tercipta pada setiap individu merupakan hasil perpaduan dua individu yang saling berkehendak. Keunikan disini berati suatu paduan yang khas dan saling-cocok (compatible) antara genom ayah dan ibu kepada turunan mereka. Keunikan disini juga berarti bahwa proses reproduksi berlangsung melalui skrutinisasi di setiap tahapan seksual yang menghasilkan kecocokan (kompatibilitas).

Jalan seksual –reproduksi seksual-, kontras dengan peminakan manusia (cloning), “memastikan” bahwa baik beban evolusi maupun keunikan dibolehkan sedemikian rupa sehingga, tanpa harus kuatir dengan arah hidup kedepan, “terjamin kualitasnya”.

Praformasi --yaitu keunikan produk dan proses dari reproduksi seksual-- demikian menjadi penting sebagai hal yang harus diperhatikan, karena praformasi ini menjadi rujukan penting dari setiap individu berkesadaran, yang disebut manusia itu. Individu yang berkesadaran tersebut menempatkan praformasi tersebut sebagai rujukan dan alat evaluasi pribadinya yang otonom. Dan karena si Individu tidak dapat diintervensi oleh dunia diluarnya dalam menentukan nasib selanjutnya, maka praformasinya merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dari individualitasnya.

Dalam kenyataan reproduksi seksual yang menghasilkan invalid, misalnya, ia tidak boleh dihabisi dengan alasan apapun. Demikian pula, manusia hasil peminakan (cloning), dengan alasan apapun, tidak boleh dihabisi hanya karena ia tidak memenuhi harapan si pembuatnya. Jalan hidup yang harus dilalui si makhluk yang berkesadaran itu tidak tertanggungkan oleh si pembuatnya –kehidupan yang normal dan menyenangkan, tetapi lebih-lebih hal yang susah dan invalid. Disini kemudian muncul persoalan adanya “perangkap antara si pembuat dan yang dibuat” (subject-object trap).

 

Salatiga, 15 April 2003

Ferry F. Karwur


 


[1] Disampaikan dalam diskusi tentang “what dou you think about cloning” yang diselenggarakan oleh Senat mah. Universitas dan Campus Ministry UKSW, tanggal 15 April 2003.

[2] Betthauser J, dan 20 peneliti lain dari Infigen Inc, 2000. Production of cloned pigs from in vitro systems. Nature Biotechnology 18:1055-1059.

[3] The Royal Society (The UK Academy of Science), 1998. Whither Cloning?.  London, 8p.

[4] Terima kasih kepada Sdr. Yoga yang telah membantu dalam Pooling pendapat ini.

[5] Time, February 19, 2001,p.45.



©2004 Bidang Flexible Learning

Pusat Pelayanan Pengajaran dan Multimedia

Universitas Kristen Satya Wacana

Gedung E Lt. 2 - Telp (0298) 321212 Ext. 349